Bersyukurlah Sebagai Seorang Santri

yaI Masbuhin FaqihOleh: KH. Masbuhin Faqih
 Hidup di dunia tak ubahnya seperti “mampir ngombe tok”. Sungguh celaka orang yang hidup di dunia hanya disibukkan untuk mencari dunia, berperilaku hedonistik tanpa sedikitpun mengingat akhirat. Perlu dan harus kalian ketahui bahwa dunia ini adalah terlaknat. Begitupun  juga setiap sesuatu yang ada di dalamnya. Seperti halnya bungkusnya, semuanya ikut terlaknat.
Hanya ada tiga komponen yang dikecualikan. Siapa mereka? Mereka adalah;pertama, orang yang berdzikir. Kedua, Orang yang alim. Ketiga dan yang terakhir adalah orang yang mencari ilmu.  Secara tidak langsung, kalian (para santri. red) sudah termasuk bagian yang ketiga. Dan Insya Allah kalian nantinya akan ditempa untuk menjadi orang yang kedua. Bahkan bisa menjadi orang yang pertama.
Yang dimaksud “orang yang mencari ilmu” dalam konteks ini adalah  tholibul ilmi as-syar’iy wa ma yatawassalu bihi min aalaatihi, yaitu orang yang menuntut ilmu syari’at dan setiap ilmu yang berhubungan dengan syariat sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Sayyid Alawy Ibni Abbas Al-Maliky Al-Hasany dalam kitabnya Fathul Qorib al-Mujib ‘ala Tahdzibit Targhibi  wat Tarhibi. Bukan orang-orang yang menuntut ilmu-ilmu umum. Maka beruntunglah kalian para santri yang bisa mempelajari  ilmu syari’at. Tak hanya ilmu syariat. Secara tidak sadar,  “ma yatawassolu bihi min aalaatihi” juga telah kalian pelajari. Sebab, ilmu nahwu, shorof serta ilmu-ilmu alat lain yang telah kalian pelajari di sini termasuk bagian dari “ma yatawassolu bihi min aalaatihi”. Karena ilmu nahwu, shorof serta ilmu-ilmu alat lain ibarat alat yang nantinya akan membantu kalian untuk memahami ilmu syariat.
Kalian patut bersyukur atas segala apa yang telah dianugerahkan Allah SWT. Ketahuilah bahwa memahami ilmu agama merupakan nikmat yang begitu berharga . Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa yang dikehendaki Allah menjadi orang yang baik, maka akan difahamkan ilmu agama.” Maka, sebab itulah Allah SWT berarti mengiginkan kalian menjadi orang baik. Maka, sekali lagi bersyukurlah sebab hidayah Allah SWT telah diterima orang tua kalian sehingga mereka terketuk agar putra-putrinya belajar memahami dan mendalami ilmu agama. Dan sudah semestinya kalian menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin, hingga benar-benar memahami agamamu dengan benar.
Masyarakat kini banyak yang silau dengan iming-iming dunia yang sementara itu. Mayoritas, mereka menginginkan putra-putrinya menjadi orang sukses yang diukur dari segi material belaka. Mereka berharap, usai lulus sekolah putra-putrinya bisa mencari pekerjaan dengan mudah, dan sudah itu saja. Padahal hidup yang berkah lebih utama dibanding itu. Sungguh hina orang yang menuntut ilmu hanya untuk mencari kebutuhan duniawi. Dalam Pesantren kalian mendapati pembelajaran pengetahuan agama lebih mendalam dibanding di sekolah biasa. Memang orientasi ke depan -di mana kebutuhan-kebutuhan duniawi diperlukan-, tidak secara pasti mendapat apa yang diidamkan. Namun jangan pernah ragu sedikitpun pada-Nya, sebab Allah SWT akan mencukupi hambanya yang me-ramut agamanya.  Insya Allah, akan dicukupi.
 
Para santri…
Dalam Pesantren kalian ditempa sedemikian rupa untuk mempraktekkan “ikroman wa ihtiroman lil ustadz.” Ini adalah kebutuhan primer yang harus dipenuhi oleh seorang tholibul ilmi. Tanpa “ikroman wa ihtiroman lil ustadz”, tidak akan manfaat dan barokah ilmu yang didapat oleh seseorang, meski pintar sundul langit. Ulama-ulama besar di penjuru dunia sama sekali tidak pernah lengah dalam mempraktekkan  “ikroman wa ihtiroman lil ustadz,” karena memang berkahnya ilmu bermula dari itu.
Dan jangan pernah merasa puas dengan apa yang telah kamu dapatkan sekarang. Allah SWT berfirman kepada Nabi-Nya agar selalu berdo’a supaya selalu ditambahkan ilmunya. Ini merupakan suatu pelajaran yang berharga bagi kita. Apalagi bagi santri Mahasiswa. Mentang-mentang sudah menjadi Mahasiswa merasa sudah banyak ilmunya, sehingga kementus lan kemeruh sampai tidak  berkenan mengaji. Jika itu, maka hati-hatilah sebab petunjuknya bukan semakin dekat melainkan tambah menjauh. Tidak lain itu disebabkan oleh sifat angkuh yang sangat berbahaya. Tholibul ‘ilmi mestinya tidak bisa terlepas dari sifat tadhorru dantawadhu’ tidak sok, seperti mayoritas mereka yang tertipu sehingga menganggap Gurunya yang dulu sempat mendidiknya sebagai “mantan” Guru. Na’udzubillah.
 
Para santri…
Sekali lagi, bersyukurlah sebab Allah SWT telah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang dikehendakinya menjadi orang baik, Insya Allah. Beruntunglah kita merasakan anugerah ini. Semoga Allah menjauhkan kita dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’ serta doa yang tak terkabulkan.  Amiien...

Add comment


Security code
Refresh