IBU RUMAH TANGGA, “WOW GITUCH…!”

“Hanya Ibu rumah tangga?”
“Gak ada aktivitas lain…”
Rasa malu saat mengatakan aktivas yang mungkin menjadi hal biasa di mata khalayak adalah suatu yang sangat lumrah. Bahkan mungkin bukan hanya dirinya sendiri, orang yang dekat dengannya pun sering terjebak rasa malu saat menjawab kejujuran profesi yang digeluti pasangannya. Contohnya, dalam profesi yang rata-rata disandang seorang wanita, yakni “Ibu RT” alias Ibu rumah tangga. Setelah seorang wanita melepas masa lajang dan menemukan pasangan tulang rusuknya dengan pasti seorang wanita telah menjadi “Ibu RT”.
Banyak wanita muda putus sekolah hanya di tingkat SMP/ SMA dan tidak  melanjutkan jenjang perguruan tinggi karna mereka menganggap; “percuma saja sekolah sarjana tapi berakhir di dapur rumah tangga”. Nah, ini anggapan salah yang banyak dikonsumsi oleh orang awam.
Namun ada juga yang bertolak belakang dengan peryataan tersebut dengan tanggapan; “meskipun menyandang  “Ibu RT”, aku tak ingin tertinggal dari yang lain, jadi aku harus tetap kuliah dan menjadi seorang yang sukses dalam berkarir”. Semua pernyataan di atas dikembalikan pada setiap individu masing-masing. Jika kita meresapi sekelumit pertanyaan dan pernyataan yang ada di benak mereka, apakah jawaban yang tepat untuk Ibu RT?
Siapa sih Ibu RT itu...?!
Hanya sekedar ibu rumahan kah...!
Atau tak lain hanya sekedar pembantu tanpa bayaran...? Duh, segitu hinakah profesi ini...?
Jika orang barat ditanya profesi Ibu RT mereka akan menjawab; “wouw, profesi yang hebat, tidak semua wanita mau menekuninya, I can’t do it…!” Karena mereka melihat betapa sulitnya untuk menjadi seorang istri sekaligus Ibu yang baik untuk anak-anaknya. Kebanyakan dari mereka memilih memasukkan anak-anak mereka di child care. Mereka lebih memilih bekerja daripada harus mengasuh anak di rumah. Suatu fakta yang tak bisa dipungkiri bahwa para Ibu di kalangan barat memilih “melarikan diri” dari tugas dan tangung jawabnya sebagai Ibu dengan bekerja. Mengasuh anak membuatrnya stress. Bukankah itu suatu bukti bahwa mengurus anak adalah suatu pekerjaan dan tanggung jawab yang berat? Lalu dimana penghargaan masyarakat kita terhadap Ibu rumah tangga? Dan bagaimana dengan suami? Penghargaan  apa yang akan suami berikan untuk istri?
Itu baru dilihat dari satu sisi saja, tidakkah kita melihat bahwa seorang istri atau Ibu di rumah tidak pernah berhenti dari tugasnya? Jika para suami mempunyai jam kerja terbatas antara 8-10 jam misalnya maka sesungguhnya seorang ibu rumah tangga mempunyai jam kerja lebih panjang yaitu 24 jam. Ia harus standby (selalu siap) kapan saja diperlukan bila diantara kelurga ada yang sakit, siapakah yang akan bergerak terlebih dahulu? Bukankah seorang Ibu/istri adalah dokter pribadi sekaligus perawat bagi suami dan anak-anaknya? Karena beliaulah yang akan berusaha meringankan beban sakit “sang pasien” di rumah sebelum dibawa ke rumah sakit (yang sebenarnya) apabila sang Ibu tidak sanggup mengobatinya. Pernahkah kita memikirkan berapa jumlah uang yang harus dikeluarkan untuk membayar seorang dokter dan perawat pribadi di rumah pribadi?
Bukankah seorang Ibu juga seorang psikolog? Karena adalah kenyataan ketika sang anak tiba-tiba datang mengeluh dan mengadu atas kesusahan atau penderitaan yang mereka alami, maka sebagai Ibu yang baik, ia akan berusaha mencari jalan keluar atas kesusahan atau penderitaan anaknya dengan saran, nasehat dan belaian kasih sayang. Begitu pula  suami ketika merasa resah dan gelisah, bukankah istri menjadi tempat curahan? Tak jarang para istri membantu suami meringankan dan memberi jalan keluar terhadap masalah yang sedang dihadapi.
Bukankan seorang Ibu/istri dituntut untuk pandai memasak? Pernahkah anda membayangkan wahai para suami, anda memiliki juru masak di rumah yang selalu siap anda perintah kapan saja anda mau? Anda memiliki juru masak di rumah, ketika anda pulang ke rumah maka hidangan lezat tersedia bagi anda dan juga anak- anak anda. Dan pernahkah anda membayangkan berapa juta uang yang harus anda keluarkan untuk mengundang juru masak pribadi datang kerumah anda? Tidak berlebihan jika tiba-tiba dikatakan; “Wouw...”  untuk Ibu Rumah Tangga.
Penyair arab meyenandungkan karyanya yang berbunyi  “Al-Ummu Madrasatun  idza a’adtaha ‘adadta sya’ban tayyibul ’araq” artinya “seorang ibu adalah sekolah. Jika engkau persiapkan dia dengan baik, maka sungguh engkau telah persiapkan sebuah generasi yang unggul”. Dan di tangan Ibulah masa depan generasi sebuah bangsa. Karena itulah Islam sangat menghormati dan menghargai profesi ini. Kenyataan yang tak bisa dipungkiri bahwa kedudukan Ibu tiga kali lebih tinggi dibandingkan seorang Ayah. Karena Islam melihat tanggung jawab yang berat yang diemban seorang Ibu. Itu menandakan bahwa menjadi seorang Ibu rumah tangga adalah profesi yang sangat mulia dan sangat terhormat. Seharusnya kita bangga dan akan koprol sambil bilang “Wouw....” Islam yang telah mengukuhnya demikian. Maka sebagai kaum Hawa, kenapa harus malu menjaga identitas sebagai Ibu rumah tangga?

Add comment


Security code
Refresh