ANTARA SERAGAM DAN BERAGAM

Mahasiswa INKAFA wajib berseragam! WOUW…! Ketika mendengar kebijakan itu, saya terkejut dan hati kecil saya cenderung menyatakan tidak setuju. Entah bagaimana kronologi kebijakan wajib memakai seragam ini bermula. Memang seragam satu sisi sangat bernilai positif, namun tanpa sadar pada sisi yang lain bagi Mahasiswa, seragam adalah sebagai pertanda adanya kebijakan yang “kurang bijak” sebab mengabaikan dampak negatif bagi psikologis Mahasiswa yang begitu mendambakan sebuah perubahan. Perubahan adalah suatu proses yang menanggung suatu konsekwensi, baik itu baik maupun buruk. Dalam kaitan ini status Mahasiswa yang harus tunduk pada kebijakan yang sudah ditetapkan mau tidak mau, secara tidak langsung telah mengkerdilkan nyali Mahasiswa untuk menjadi dirinya sendiri. Segala aktivitasnya harus “membebek” dengan adanya instruksi dari instansi. Logika sederhana; jika tidak ada komando, maka tidak berminat bergerak alias menjadi sosok yang manja sebab terus menerus digiring mengikuti komanda tanpa tergerak dengan sadar untuk mengembangkan potensi dirinya menjadi seorang Mahasiswa yang berdidikasi laiknya Agent of Change.

 
            Akhir-akhir ini sepertinya masa silam seorang Mahasiswa yang dulunya belum mendapat legalitas label “Maha”, dan masih setia dengan identitas siswa, terulang kembali. Sebuah masa yang menyisakan kenangan pahit untuk terus menerus dipaksa. Belajar dipaksa, mengaji dipaksa, beribadah dipaksa dan hampir seluruh aktivitas yang menjadi rutinitasnya akrab dengan istilah “dipaksa”. Setelah label “Maha” itu disematkan pada seorang siswa yang telah lulus dan melangkah pada jenjang perguruan tinggi yang menuntutnya lebih tinggi dari sebelumnya, dengan sebutan “Mahasiswa”, secara alamiah pula ia akan mengapresiasikan diri sebagai bagian dari Agent of change. Konsekwensinya, ia akan menuntut dirinya menuju sebuah perubahan, baik pada dirinya pribadi maupun pada lingkungan yang sebelumnya senantiasa memaksanya untuk berbuat ini dan itu. Ia akan dengan tegas dan lantang menyatakan bahwa kini dirinya bukan yang dulu lagi, maka jangan disamakan bagaimana memperlakukannya. Dalam istilah sederhana, ia akan memuja sebuah kebebasan yang kadang kala kebablasan sampai menanggalkan idealisme Mahasiswa itu sendiri.
            Sebenarnya topik Mahasiswa berseragam sudah sejak lama ada. Tanggapan dari pelbagai pihak mayoritas menyatakan tidak setuju. Banyak faktor yang menjadi alasan tanggapan itu. Beragam argumentasi dengan beragam segi dilontarkan dalam menolak kebijakan itu. Dan ternyata memang kebijakan seragam dulu tidak sampai goal. Tentunya dengan pertimbangan “Dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil Masholih”. Akhirnya diputuskan agar berjalan sebagaimana biasanya. Mahasiswa bebas berpakaian asalkan etis dan memenuhi standar tradisi lingkungan akademis. Namun, sekarang berbeda, kebijakan itu berhasil goal dan musti ditaati. Dan sekali lagi kembali dipaksa.
            Bukan menjadi sesuatu yang aneh jika Mahasiswa “ndableg” dalam lingkungan akademis. Label “Mahasiswa” sangat potensial mengukuhkan sikap ke-ndableg-kannya itu. Dan tidak heran jika Mahasiswa berbeda-beda macamnya. Ada istilah Mahasiswa yang kritis sehingga dikenal sebagai seorang “aktivis”, ada Mahasiswa yang enggan berbuat apa-apa sehingga dikenal dengan Mahasiswa “apatis”, ada Mahasiswa yang begitu memperhitungkan pengeluaran keuangan sehingga dikenal dengan Mahasiswa “ekonomis”, ada yang begitu tangguh memperjuangan keyakinannya sebagai yang semestinya sehingga dikenal dengan sebutan Mahasiswa “idealis”, ada yang begitu lugu untuk senantiasa taat pada kebijakan-kebijakan institut dan selalu husnuddzon serta banyak berpetuah amar ma’ruf nahi munkarsehingga dikenal dengan Mahasiswa “agamis”,  dan yang paling janggal ada Mahasiswa yang meluangkan banyak waktunya untuk banyak ber-ta’arruf dengan lawan jenis  (ya, entah sekedar semacam cipika-cipiki atau basa basi) dan begitu kebelet untuk segera lulus kemudian menikah sehingga dijuluki sebagai Mahasiswa “biologis”, dll. Beragam julukan itu muncul secara alamiah dengan latar belakang yang dimilikinya. Dari sini jelas sudah, bahwa keberagaman itu adalah sebuah keniscayaan sebab label seorang Mahasiswa itu sendiri. Beda ceritanya jika bukan seorang Mahasiswa.
            Nah, ide tentang kewajiban memakai seragam bagi Mahasiswa ini sepertinya bisa menghilangkan makna Mahasiswa sebagai pelajar yang secara wajar menuntut sebuah perubahan itu. Dikhawatirkan pula, jangan-jangan juga bisa menghilangkan keyakinan yang tertanam dalam sanubari mengenai jati dirinya. Dan pada akhirnya akan menciutkan nyali dan minatnya dalam menawarkan gagasan-gagasan baru. Kalau sudah demikian perkuliahan menjadi statis dan mengalami stagnasi. Lantas, di mana letak ruh akademis sebuah institut? Tak ubahnya sebagai “penjara” yang menjenuhkan. Belum lagi jika orientasi akademis diabaikan.
            Mahasiswa yang beragam adalah sebuah keniscayaan dan kenyataan yang tak bisa dipungkiri. Keragaman itu mestinya tidak menimbulkan sebuah pandangan yang apriori. Keragaman itu justru menjadi sebuah keistimewaan yang layak dirawat dengan baik dan benar, sehingga meski berbeda namun tetap memiliki semangat akademis yang sama; “tidak berhenti belajar!”. Jika keragaman ini dipandang secara apriori, maka tak syak akan berdambak statis. Statis dalam berpikir maupun dalam berdedikasi.
            Memang ada benarnya, seragam dianggap sebagai simbol adanya kesetaraan dan kerukunan. Namun, terkadang kenyataan justru sebaliknya, seragam menjadi sebuah momok. Akibatnya harapan setara itu berangkat dari keterpaksaan, begitu pula harapan rukun itu tidak setulusnya. Padahal, sebelumnya Mahasiswa dengan bangga memakai seragam almamater dalam berbagai acara akademis di luar jam kuliah. Kebanggaan itu menjadi bukti bahwa mereka begitu menghargai kampusnya. Berangkat dari kebanggaan itu jiwa Mahasiswa akan terasah untuk terus berkembang dan tidak statis. Ia akan menjadi pribadi tangguh yang memiliki tanggung jawab moral sebagai seorang Mahasiswa. Bukan sebab dipaksa!
            Penulis mangamati sepertinya substansi antara ber-seragam atau beragam bagi Mahasiswa adalah adanya sebuah tanggung jawab moral untuk menjiwai semangat Mahasiswa itu sendiri, yakni sebagai Agent of Change dan terus belajar tanpa henti. Apa manfaatnya berseragam jika kehilangan semangat itu, dan sebaliknya apa positifnya jika keberagaman memicu pertikaian? Mahasiswa sejati tentu tahu secara sadar apa yang terbaik bagi dirinya dan lingkunganya.
Sejenak saya teringat tulisan Dahlan Iskan dalam bukunya Dua Tangis Dan Ribuan Tawa. Beliau menyatakan dalam salah satu artikelnya; “Orang yang sering diberi arahan akan menjadi bebek. Orang yang terlalu sering diberi instruksi akan menjadi besi. Orang yang terlalu sering diberi peringatan akan jadi ketakutan. Dan orang yang sering diberi pidato kelak bisanya hanya akan minta petunjuk”. Apalagi ketika semua itu dihadapkan kepada Mahasiswa 

Add comment


Security code
Refresh